PEKANBARU, Tulisfakta.com | | Masyarakat Kecamatan Payung Sekaki, Kota Pekanbaru, melaksanakan Shalat Istisqa’ berjamaah di Masjid Paripurna Al-Mujahidin, Jumat pagi (9/10). Langkah spiritual ini diambil sebagai wujud keprihatinan sekaligus permohonan bersama turunnya hujan, di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta tebalnya kabut asap yang menyelimuti Riau belakangan ini.

Kegiatan berlangsung pukul 07.30 WIB. Shalat dipimpin Ustadz Abdul Rahman Atan, SE, MA sebagai Imam. Khutbah disampaikan Ustadz H. Khairuddin Ahmad Jais, Lc, sedangkan Ustadz Ridwan Sahli, SH bertindak sebagai Bilal.
Bukan sekadar ibadah, shalat ini menjadi penanda kesadaran kolektif: krisis lingkungan yang melanda bukan hanya soal cuaca, melainkan juga tanggung jawab bersama seluruh warga.
Dalam pernyataan resminya, Plt. Camat Payung Sekaki, Abdullah S.STP., menyampaikan keprihatinan mendalam atas dampak yang terus dirasakan warga.
“Pelaksanaan Shalat Istisqa’ ini bukan sekadar ibadah semata, melainkan wujud keprihatinan dan kepedulian kita bersama atas musibah kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang serta kabut asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas warga sehari-hari,” ujarnya.
Kondisi saat ini sudah mengkhawatirkan: kasus gangguan pernapasan meningkat tajam, anak-anak sulit beraktivitas di luar rumah, hingga pelayanan publik pun terhambat.
“Selain berdoa memohon pertolongan Allah SWT dan turunnya hujan yang menyegarkan, kami tegaskan: seluruh elemen masyarakat wajib turut menjaga lingkungan. Dilarang keras membakar hutan dan lahan untuk alasan apa pun. Tindakan tersebut melanggar hukum dan merugikan banyak pihak,” imbuhnya.
Pemerintah Kecamatan Payung Sekaki menegaskan sedang berkoordinasi erat dengan kepolisian, Satgas Penanggulangan Karhutla, serta instansi terkait untuk menindak tegas siapa pun pelaku pembakaran.
“Mari jaga bumi Riau ini demi kesejahteraan bersama,” pinta Abdullah.
Tekanan cuaca kering ekstrem yang melanda Riau memperparah penyebaran titik api, termasuk di wilayah Payung Sekaki. Kabut asap menyebar luas dan menurunkan indeks kualitas udara hingga masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Dampak yang tercatat:
– Peningkatan signifikan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di kalangan warga segala usia;
– Gangguan penglihatan dan peningkatan risiko keselamatan lalu lintas;
– Kegiatan belajar mengajar di sejumlah satuan pendidikan terganggu akibat ketidaklayakan udara.
Shalat Istisqa’ ini juga menjadi sarana penyatuan tekad, penanganan bencana tidak bisa hanya menunggu hujan turun. Pemerintah Kecamatan Payung Sekaki menyatakan terus bergerak melalui langkah-langkah konkret:
– Pemantauan ketat titik panas di seluruh wilayah binaan;
– Sosialisasi berkelanjutan larangan pembakaran lahan dan hutan;
– Penyaluran bantuan masker pelindung pernapasan bagi warga terdampak;
– Peningkatan layanan kesehatan bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan.
Langkah spiritual pagi ini menjadi pengingat: memohon pertolongan Tuhan sekaligus bergerak menjaga bumi adalah satu kesatuan kewajiban.
“Riau tidak selesai dengan hujan saja, Riau butuh kesadaran dan kepatuhan setiap orang,” pungkas Plt. Camat Abdullah. (Red)
Editor : Jajang N


