PEKANBARU, Tulisfakta.com | | Memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) 2026, Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia Wilayah Riau, Susana Pebri Artati, menegaskan bahwa perhatian terhadap kesehatan jiwa tidak hanya ditujukan bagi anak-anak yang berjuang melawan kanker, melainkan juga orang tua dan pendamping yang mendampingi mereka. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan bertajuk “Berbagi Senyum, Menguatkan Harapan” di Rumah Singgah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI), Pekanbaru, Sabtu (10/10/2026).
Susana menyampaikan, proses pengobatan yang panjang tidak hanya menuntut kekuatan fisik anak, melainkan juga menuntut ketahanan jiwa yang memerlukan dukungan terus-menerus. Kesehatan jiwa, katanya, bukan sekadar kemampuan bertahan menghadapi kesulitan, melainkan adanya ruang untuk merasa, bercerita, didengarkan, dan tetap memiliki harapan.
“Kesehatan jiwa bukan hanya tentang bagaimana seseorang menghadapi masalah atau kesulitan. Namun, bagaimana seseorang memiliki ruang untuk merasa, didengarkan, diterima, dan tetap mempunyai harapan,” ujar Susana dalam sambutannya.
Ia menyoroti bahwa selama ini kerap muncul anggapan anak yang sedang berobat harus tampil “selalu kuat”. Padahal, mereka berhak mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi.
“Kalian tidak harus selalu kuat, tetapi kalian perlu tahu bahwa kalian tidak sendiri. Kalian berharga, kalian hebat, dan harapan kalian sangat berarti,” pesan Susana kepada anak-anak di Rumah Singgah YKAKI.
Susana juga menekankan bahwa orang tua dan pendamping tidak boleh dilupakan dalam upaya dukungan kesehatan jiwa. Mereka menanggung beban emosional yang berat: kecemasan, kesedihan, kelelahan batin yang jika tidak tertangani dapat memengaruhi kualitas pendampingan terhadap anak.
“Orang tua dan para pendamping tidak harus selalu terlihat kuat. Merasa lelah, sedih, takut, atau membutuhkan dukungan merupakan hal yang manusiawi. Mereka juga perlu didengarkan dan diberikan ruang untuk menyampaikan apa yang dirasakan,” tegasnya.
Melalui kegiatan tersebut, IPK Riau menghadirkan ruang bermain, berkarya, dan berbagi bagi anak-anak guna menumbuhkan pengalaman positif di tengah perjalanan pengobatan yang tidak mudah. Susana mengajak masyarakat luas tidak harus menunggu tindakan besar untuk peduli. Kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi, kehadiran yang tulus, dan apresiasi terhadap perasaan orang lain sudah merupakan dukungan yang bermakna.
“Kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Kehadiran, perhatian, dan kesediaan untuk mendengarkan dapat menjadi bentuk dukungan yang bermakna,” tambahnya.
Kegiatan ini mengusung semangat “Pengalaman Nyata, Didengarkan, Suara Nyata, Perubahan Nyata”, mengingatkan bahwa setiap suara layak didengar dan setiap individu berhak mendapatkan dukungan.
“Kami dari IPK Riau mengapresiasi Rumah Singgah YKAKI serta seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. IPK Riau berharap kegiatan ini meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kesehatan jiwa adalah kepedulian bersama bagi mereka yang berjuang, dan bagi mereka yang mendampingi,” pungkasnya. (Red)
Editor : Jajang N


