JAKARTA, Tulisfakta.com | | Predikat “Pancasilais” bukan gelar yang boleh diumbar secara sembarangan, apalagi dipakai sebagai senjata untuk menuding pihak lain yang berbeda pandangan. Nilai luhur bangsa itu justru harus dibuktikan lewat tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Demikian ditegaskan Abd. Aziz, CEO Firma Hukum Progresif Law Jakarta, yang juga Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK), dalam refleksi tertulis bertajuk “Pancasilais itu Terpatri dalam Kehidupan Nyata”.
Yang menarik, pengajar mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan selama 13 tahun ini justru menyatakan dirinya tidak berani mengaku sebagai “Pancasilais”.
“Bukan karena saya tidak percaya kepada Pancasila, melainkan karena saya merasa predikat itu terlalu besar untuk diumbar sembarangan,” ujarnya.
Ia menyoroti fenomena yang makin mengkhawatirkan: Pancasila kerap diucapkan di setiap pidato dan pernyataan resmi, namun berubah menjadi alat untuk menandai siapa yang dianggap “anti-Pancasila” hanya karena berbeda pandangan. Semakin lantang seseorang mengaku paling Pancasilais, kata dia, semakin patut dipertanyakan ketulusan pengamalannya.
“Pancasila bukan lomba siapa paling fasih menyebut lima sila, apalagi kompetisi siapa paling cepat menempelkan label ‘anti-Pancasila’ kepada orang lain,” tegas Ketua Umum Kaukus Nahdlatul Ulama (KALAM NU).
Menurut Aziz, menghafal dan menyebut kelima sila itu mudah. Ujian sesungguhnya terletak pada pengamalannya:
– Berketuhanan tanpa merasa paling suci
– Menjunjung kemanusiaan tanpa merendahkan orang lain
– Menjaga persatuan tanpa membungkam perbedaan
– Mengutamakan musyawarah tanpa memaksakan kehendak
– Memperjuangkan keadilan sosial tanpa hanya adil kepada kelompok sendiri
Mengutip pesan Nelson Mandela, ia menegaskan Pancasila harus hadir sebagai etika hukum yang melindungi segenap manusia dan menegakkan kesetaraan bukan alat kekuasaan untuk menindas yang lemah. Ukuran kesetiaan pada Pancasila bukan kerasnya suara saat berpidato, melainkan keberanian membela kebenaran di hadapan kekuasaan dan ketidakadilan.
“Ada yang sibuk mencari orang yang dianggap tidak Pancasilais, tetapi lupa memeriksa diri sendiri. Ada yang mengutip Pancasila saat butuh legitimasi, tetapi gagap saat harus membela yang lemah,” kritiknya.
Ia memperingatkan, jika Pancasila dipakai hanya untuk membungkam kritik, maka yang dibela bukan Pancasila, melainkan kenyamanan pihak yang berkuasa.
“Seorang Pancasilais sejati harus berani memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan kemanusiaan; melawan ketidakadilan tanpa berubah menjadi sumber ketidakadilan,” pesannya.
Semakin mendalami nilai-nilai Pancasila, semakin disadari bahwa menjadi Pancasilais bukan soal merasa paling benar, melainkan kesediaan untuk terus mengoreksi diri.
“Pancasila tidak membutuhkan manusia yang paling keras mengakuinya. Pancasila membutuhkan manusia yang diam-diam menghidupinya,” tandas Aziz.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa berhenti berteriak “Saya paling Pancasilais!” dan mulai bertanya pada diri sendiri: “Sudahkah perilaku saya pantas disebut Pancasilais?” Sebab jika nilai luhur ini hanya diucapkan lalu diinjak-injak dalam kenyataan, kesepakatan luhur para pendiri bangsa ini dapat terancam rusak dan kehilangan maknanya bagi Indonesia.
Penulis : Bintang
Editor : Jajang N


