Ketua Umum KALAM NU: Gus Kikin Pemimpin Tak Berjarak, Akhlak Sebelum Kekuasaan

JAKARTA, Tulisfakta.com | | Di tengah dunia yang kerap mengukur seseorang dari gelar, jabatan, dan pengaruh, sosok Kiai Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin justru menampilkan kebesaran yang berbeda: kerendahan hati yang tulus, tutur teduh, dan kesediaan mendengarkan siapa saja tanpa memandang status.

Demikian disampaikan Abd. Aziz, Pendiri & Mitra Senior Firma Hukum Progresif Law Jakarta, Ketua Umum DPP GMPK sekaligus Ketua Umum Kaukus Intelektual NU (KALAM NU), dalam sebuah siaran pers bertajuk “Sebuah Testimoni Karakter”, Jakarta, 18 September 2026.

Gus Kikin, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang kini dipercaya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031, dikatakan tidak menjadikan kedudukan sebagai tembok pembatas. Semakin tinggi posisinya, justru semakin terbuka ia diajak berbicara.

Mendengar Gagasan, Bukan Hanya Nama
Menurut Aziz, kemampuan mendengarkan terlebih bagi mereka yang berkuasa bukan hal sederhana. Gus Kikin tidak memotong pembicaraan, tidak terburu-buru merasa lebih tahu, dan memperlakukan setiap lawan bicara setara, meski lawan bicaranya lebih muda atau bukan tokoh terpandang.

“Ada pemimpin yang bertanya: siapa Anda? Gus Kikin bertanya: apa gagasan Anda?” sebut Aziz.

Nilai percakapan tidak ditentukan oleh jabatan pembicara, melainkan bobot gagasan yang disampaikan. Sikap ini dinilai sangat relevan bagi NU: organisasi raksasa ini tidak boleh hanya mendengar suara dari lingkaran elit, melainkan harus memberi ruang bagi kiai, ulama, intelektual, aktivis, pemuda, hingga warga akar rumput.

Aziz menegaskan, kepemimpinan yang kuat bukanlah yang paling banyak berbicara, melainkan yang paling jauh mendengar. Kewibawaan tidak lahir dari suara keras, melainkan dari ketenangan, kesabaran, dan kemampuan membuat orang lain merasa dihargai.

Kini, memimpin PBNU bersama Rais Aam Kiai Miftachul Akhyar, karakter manusiawi Gus Kikin menjadi modal penting. Tantangan organisasi, kaderisasi, transformasi digital, hingga persoalan kebangsaan memerlukan fondasi yang sering terlupakan: kemampuan mendengar sebelum memutuskan, sebelum mengoreksi, sebelum menyimpulkan.

“Jika kebiasaan itu dibawa dari Tebuireng ke PBNU, lahirlah organisasi yang besar secara struktur, namun rendah hati secara kultur,” tandasnya.

Di balik jabatan, tersimpan sisi tersembunyi: seorang kiai yang tetap memandang setiap orang sebagai manusia bermartabat. Kebesaran sejati tidak membutuhkan jarak dan akhlaklah yang memberi makna atas segala kedudukan.

Penulis : Bintang

Editor : Jajang N

Komentar

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Selengkapnya

Index Berita