JATIM, TULISFAKTA.COM | | Dalam upaya memperkuat persatuan bangsa dan mencegah potensi konflik horizontal, para ulama besar Indonesia mengambil langkah strategis dengan mendirikan Ikatan Himpunan Santri dan Alumni Pesantren se-Nusantara (IHSAN). Lembaga ini hadir sebagai garda terdepan dalam menjaga moralitas serta merawat kerukunan hidup di tengah keberagaman masyarakat.
Gagasan pendirian IHSAN lahir dari visi besar Kiai Muhammad Ali Cholil (Ra Ali), Pengasuh Pesantren Syaichona Cholil di Kalimantan Timur sekaligus Rois Syuriah PWNU Kaltim, yang kemudian didiskusikan secara mendalam bersama Rais Syuriah PBNU, Kiai H. Imam Buchori Cholil.

Dalam pertemuan yang berlangsung hangat di Kota Malang, Jawa Timur, kedua tokoh tersebut menegaskan bahwa IHSAN bukan sekadar organisasi, melainkan “rumah bersama” yang mewadahi kekuatan intelektual dan spiritual para santri demi menjaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Mencegah Konflik Secara Terencana
Salah satu fokus utama IHSAN adalah melakukan langkah preventif dan proaktif dalam menangani isu sosial. Melalui persatuan para ketua alumni dan pengasuh pesantren, diharapkan potensi gesekan antar suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dapat dicegah sejak dini.
“Jika para Ketua Alumni Pesantren bersatu, maka hal serupa yang pernah terjadi di Sampit, Lampung Selatan, hingga Papua bisa dilakukan pencegahan yang terencana, terukur, dan terprediksi (3T),” tegas Abd. Aziz, Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) yang turut terlibat dalam pembahasan pembentukan organisasi ini.
Abd. Aziz, yang juga advokat dan legal consultant, menilai pentingnya wadah ini untuk memaksimalkan peran santri sebagai penggerak sosial dan pengawal moral di era globalisasi. Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa santri memiliki peran strategis dalam menjaga pilar-pilar kebangsaan.
Visi Islam Rahmatan Lil Alamin
IHSAN diusung dengan misi utama menegaskan kontribusi pesantren dalam pembangunan bangsa, menjaga marwah ulama, serta mengamalkan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam). Visi ini sejalan dengan cita-cita luhur para pendiri bangsa untuk hidup berdampingan dan membangun kehangatan berwarganegara.
Dalam pertemuan tersebut juga dibahas sejumlah program strategis, termasuk pemelopori peringatan Hari Santri Nasional (HSN) dan Doa Kebangsaan yang akan digelar serentak di 38 provinsi, 98 kota, dan 416 kabupaten di seluruh Indonesia.
Langkah selanjutnya,
menjelang berakhirnya diskusi, disepakati tindak lanjut konkret selanjutnya, Abd. Aziz, yang menjabat CEO Firma Hukum PROGRESIF LAW, Jakarta, ditunjuk untuk memproses legalitas organisasi, mulai dari penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), proses notaris, hingga pendaftaran resmi di Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Setelah legalitas selesai, akan dibentuk kepanitiaan nasional dan penyusunan acara deklarasi akbar. Secara khusus, Kiai Muhammad Ali Cholil mengumumkan bahwa momen deklarasi IHSAN akan digelar di Kalimantan dengan dihadiri oleh ratusan ulama, pengasuh pesantren, dan para deklarator dari seluruh penjuru Nusantara.
Dengan terbentuknya IHSAN, diharapkan kekuatan santri semakin solid dalam menjaga keharmonisan, mencegah perpecahan, dan berkontribusi nyata bagi kemajuan Indonesia. (Red)
Editor : Redaksi


